Grab this Widget ~ Blogger Accessories

December 9, 2008

Selamat Idul Adha 1429 H

Translate to English



Dalam kesempatan yang berbahagia ini, atas nama Islamic Oase saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1429 Hijriah. Minal 'Aidin wal Faizin, mohon dimaafkan lahir batin. Mohon maaf juga atas kekosongan dan vakumnya Islamic Oase beberapa minggu terakhir dikarenakan kuliah dan tugas paper yg lumayan banyak.

By the way, sesegeranya saya ada waktu senggang saya akan usahakan kembali membuat tulisan di sini. Selamat lebaran, mari kita kobarkan semangat berkorban dalam jalan Allah, mengharapkan ridha-Nya semata.

Lanjut Membaca...

November 6, 2008

Salam .. not Ass

Translate to English



Say: Salam, and not Ass
Bismillah. Sudah lama saya melihat fenomena yang kurang baik ini di kalangan kita. Sering kita menemukannya dalam interaksi sehari-hari kita, apakah itu lewat media Email, messenger, sms, shoutbox dan lain sebagainya. Ini salah satu contohnya:

Mungkin awalnya untuk mempersingkat saja. Itu bisa diterima. Namun lupakah kita ketika membaca tiga huruf tersebut; a-s-s ... apa yang dunia luar fahami? Apa kata dunia? Ok, kita memahaminya sebagai sebuah ucapan salam yang membawa semangat perdamaian dan saling mendoakan. Tapi pembaca selain kita - orang Indonesia - akan memahaminya berbeda. Kalau saya boleh mengingatkan kembali, ass dalam bahasa Inggris berarti (maaf): pantat. Sebuah kata yang sangat negatif.

Apalah susahnya mengganti dan menambah tiga huruf tadi dengan lima huruf lain; salam. Lebih familiar dan lebih enak dibaca. Setidaknya itulh hal paling kecil yang bisa kita perbuat jika berat menuliskannya dalam format aslinya;
as-salamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
(semoga sejahtera, rahmat dan berkah-Nya senantiasa
tercurahkan padamu)

Lanjut Membaca...

November 5, 2008

Menempelkan E-Book dalam Postingan

Translate to English

Share Your Documents

  • Easily publish and share your documents with the world
  • Embed documents in any website

Bismillah. Dapat satu hal baru lagi yang bisa saya terapkan untuk menunjang aktivitas ber-blogging ria. Sebenarnya sudah sejak dua bulan lalu saya mengenal embedded media ini. Namun baru malam ini saya bisa memanfaatkan fungsinya. (Inspired by Spanish blogger's post I mentioned on my last post before this one)

iPaper namanya, produk keluaran Scribd yang sangat membantu kita untuk menampilkan/menempelkan (embeding) segala macam dokumen di blog kita layaknya menempelkan video dari Youtube. Untuk lebih jelasnya, biar scribd.com sendiri yang memberi penjelasan secara singkat namun padat:

iPaper is simply the best way to view documents on the web. iPaper is designed to be as fast and easy to use as possible. You can even embed iPaper in your web site or blog - just like a YouTube video.

***

No more bloated document viewers, add-ons, or unsafe downloads. With Scribd's API toolkit, developers can smoothly integrate iPaper documents into websites and applications with little or no additional coding.


(Bagi yang masih belepotan bahasa Inggrisnya seperti saya, mari sama-sama belajar bahasa Inggris. Jika tidak ada waktu, apa boleh buat. Langsung serahkan kepada oom Google Translate :D)

Sudah jelas kan? Nah, sebagai contoh saya tampilkan lagi dokumen PDF unduhan (hasil download) yang saya jadikan sebagai media iPaper dan saya embed dalam postingan sebelum ini; Ibn Tofail :: Ilmuwan Andalusia :: Pelopor Konsep Autodidak dan Tabula Rasa

Hay bin Yaqzhan - Arabic Version


Kalau saya tidak salah, dimensi lebar iPaper akan menyesuaikan lebar body postingan kita. Dalam dokumen di atas tulisan yang aslinya adalah dokumen PDF ini terlalu kecil dan sulit untuk membaca tulisannya. Namun sebagaimana layaknya kita menonton media video Youtube embedded, media iPaper-pun bisa diperbesar. Cari tombol zoom in/maximize di pojok kanan atas iPaper. Tadaa, kita bisa membaca dokumen kita dengan leluasa.

Masih kurang? Scribd telah menyediakan tiga cara membaca/menampilkan (view mode) dokumen kita:
  1. List mode; layaknya membaca dokumen PDF yang bisa kita tarik naik-turun (grab down/up),
  2. Book mode; yang ini visual semi-interkatif, seakan-akan kita membolak-balik halaman buku, dan
  3. Slide mode; tampilan per-halaman dalam setiap klik, baik maju maupun mundur.


Terakhir, untuk meng-upload dokumen kita tidak diharuskan untuk mendaftar sebagai anggota. Ini cocok untuk dokumen-dokumen lepas yang tidak terkait hak cipta. Namun apabila copyright adalah hal yang harus (tulisan profesional, artikel ilmiah, akademis dan sejenisnya), maka saya sarankan untuk mendaftar. Dengan mendaftar sebagai komunitas Scribd dan ditambah dengan registrasi pada penyedia hak cipta seperti Creative Common dll. Insya Allah hasil karya kita tidak akan mudah di-plagiasi orang.

Bagaimana, tertarik untuk mencoba? Happy iPaper-ing, happy embedding & happy blogging :)

Lanjut Membaca...

November 4, 2008

Ibn Tofail :: Ilmuwan Andalusia :: Pelopor Konsep Autodidak dan Tabula Rasa

Translate to English


Beliau adalah salah satu polymath Muslim di Andalusia; yaitu seorang jenius yang menguasai lebih dari satu cakupan ilmu dan ahli dalam semua ilmu yang dikuasainya itu. Ibnu Tufail merupakan seorang filosof, pujangga dan novelis. Selain itu dia adalah ilmuwan di bidang matematika, fisika, astronomi, kedokteran dan teologi Islam.
***

Karya master-piece Ibnu Tufail ini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap literatur Arab dan literatur Eropa, dan telah menjadi salah satu best-seller yang sensasional di belahan barat Eropa sepanjang abad 17 hingga abad 18. Pengaruh kuat dari buku ini juga tampak pada filsafat Islam klasik dan filsafat modern Barat. Buku ini telah menjadi salah satu buku terpenting pencetus lahirnya Revolusi Sains dan Pencerahan Eropa. Filsafat yang tertuang dalam buku ini bisa dijumpai pada karya-karya Thomas Hobbes, John Locke, Isaac Newton dan Imanuel Kant dalam berbagai variasi dan derajat yang berbeda-beda. Buku ini pula yang kelak mengilhami cerita dan kartun Mowgli yang kita kenal saat ini.


[Pengantar] Bismillah. Saya tulis ini atas dasar mengenang memori kejayaan Islam di bagian barat, khususnya kawasan Andalusia (sebagian besar Spanyol) dan Barat Islam الغرب الإسلامي (sekarang mencakup Maroko, Aljazair, Tunis, Libia hingga Mauritania). Yah, Islam memang dulu pernah jaya disini. Tapi itu dulu. Sekarang Andalusia sebagai pusat peradaban tinggallah kenangan.

Lalu untuk apa kita mengenang sesuatu yang sudah menjadi debu dan angin lalu, sudah basi dan usang? Apa pentingnya menuturkan sesuatu hal yang out of date. Bukankah lebih baik menatap hari depan? Itu mungkin yang akan menjadi pertanyaan kebanyakan kita. Memang benar, kita tidak boleh terlarut akan kenangan kejayaan. Dan kita harus menerawang jauh ke depan, demi cerahnya hari esok.

Tapi sudah menjadi sunnatullah, bahwa manusia tidak akan bisa lepas dari yang namanya Sejarah. Karena sejarahlah yang telah mencatat dan merekam setiap detail tingkah laku manusia di atas dunia ini. Dengan sejarah manusia bisa belajar banyak. Belajar untuk tidak mengulangi kehancuran pendahulunya, belajar mengikuti kejayaan mereka, bahkan belajar agar dapat menambal kekurangan yang terekam dari nenek moyangnya. Dengan itu, manusia bisa terus eksis dan membuat kemajuan bagi hidup kehidupannya.

Berbekal semangat inilah saya tuturkan satu sisi keindahan dan kejayaan sejarah Andalusia. Agar kita bisa belajar untuk meraih kejayaan yang sifatnya mengayomi, sebagaimana halnya Andalus di kala itu. Juga agar kita khususnya kaum muslimin bisa belajar untuk tidak selalu membuntut, tunduk dan menyerah pasrah kepada gencarnya cekokan peradaban Barat yang sekarang merajalela. Islam dan kaum muslimin harus bisa duduk sebagai sebuah peradaban yang diakui dan dihormati, sejajar dengan tetangga Baratnya. Bukan sebagai sebuah peradaban yang selalu jadi bahan cemoohan dunia, identik dengan terorisme dan hal-hal memilukan lainnya.

Karena saya belajar di Maroko yang masih masuk ke dalam pengaruh kejayaan peradaban Andalusia, maka cukup tepat jika saya tulis hal-hal yang berkaitannya. Tokoh yang akan kita kunjungi kali ini bernama Ibnu Tufail, filosof dan ilmuwan yang namanya diabadikan sebagai nama universitas tempat saya menuntut ilmu sekarang. Selamat membaca[.]

Selatan kota Granada menjadi saksi lahirnya seorang tokoh Islam yang kelak di kemudian hari akan dikenang sepanjang sejarah. Tepatnya di kota Guadix (وادي آش) pada tahun 494 Hijriah atau sekitar tahun 1105 Masehi, telah lahir Abu Bakar Muhammad bin Abdul Malik bin Muhammad bin Tofail al-Qaisy al-Andalusy (أبو بكر بن عبد الملك بن محمد بن طفيل القيسي الأندلسي). Beliau adalah salah satu polymath Muslim di Andalusia; yaitu seorang jenius yang menguasai lebih dari satu cakupan ilmu dan ahli dalam semua ilmu yang dikuasainya itu. Ibnu Tufail merupakan seorang filosof, pujangga, novelis. Selain itu dia adalah ilmuwan di bidang matematika, fisika, astronomi, kedokteran dan teologi Islam.

Para ahli sejarah tidak dapat menuturkan keseluruhan latar belakang dari tokoh kita ini disebabkan keterbatasan data. Tidak diketahui siapa saja keluarga dan kerabat Ibnu Tufail. Satu hal yang bisa dipastikan, Ibnu Tufail telah mengenyam pendidikan kedokteran di kota Granada sampai akhirnya beliau menjadi salah satu rujukan utama dalam kedokteran pada masanya.

Lembaran sejarah mencatat bahwa Ibnu Tufail pada masa hidupnya merupakan seorang tokoh yang cukup disegani dan berpengaruh. Beberapa jabatan pernah didudukinya. Mulai dari sekretaris umum walikota Granada, juga menjadi sekretaris dewan wilayah Tangier (baca: Tanjah, kota di utara Maroko). Puncak karirnya tercapai manakala Ibnu Tufail terpilih menjadi penasehat politik (vizier, الوزير) dan dokter pribadi Sultan Abu Yusuf Ya'qub, Amirul Mukminin pada Dinasti Muwahidin.

Pada saat Ibn Tofail menduduki jabatan inilah pengaruhnya atas Sultan dan Khalifah Muwahidin tampak dengan jelas. Hal ini dia manfaatkan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin tokoh ahli, ilmuwan dan ulama dari seluruh penjuru dinasti Muwahidin. Salah satunya adalah filosof sekaligus ahli kedokteran yang tak kalah terkenalnya, seorang polymath lain dari Andalus; Ibnu Rusyd. Kelak setelah wafatnya Ibnu Tufail, Ibnu Rusyd-lah yang menjadi penerusnya, menggantikan posisi Ibnu Tufail.

Sejarah mencatat bahwa Ibnu Tufail dan Ibnu Rusyd sering berbincang, berdebat dan saling evaluasi seputar masalah-masalah kedokteran dan filsafat. Evaluasi dan perdebatan mereka yang khusus membicarakan tentang kedokteran kemudian dicatat oleh Ibnu Tufail dalam karyanya "مراجعات ومباحث" (Muraja'at wa Mabahits; Revisi-revisi dan pembahasan -red). Lalu catatan tulisan ini oleh Ibnu Rusyd dimasukkan menjadi bagian dari salah satu karangannya: "الكليات" (al-Kulliyyat). Karya kedokteran lain dari Ibnu Tufail yang masih bisa nikmati adalah "الأرجوزة في الطب" (Arjuzah fi at-Thib) sepanjang 7700 bait, sekarang masih tersimpan di perpustakaan Jami' al-Qarawiyyin Fes - Maroko dalam bentuk manuskrip.

Selain mumpuni di bidang kedokteran, Ibnu Tufail juga merupakan master bidang astronomi. Teori-teori briliannya di bidang ilmu perbintangan secara ringkas dilukiskan oleh Lyon Goteh (?)-seorang orientalis Perancis: "Walaupun tidak ditemukan tulisan-tulisan Ibnu Tufail di bidang astronomi, namun kita tahu bahwa dia tidak setuju dengan teori system jagat raya yang diletakkan Batlimus, bahkan kita tahu bahwa Ibnu Tufail telah memiliki teori baru". Hal ini dikuatkan oleh pernyataan Ibn Rusyd bahwa Ibnu Tufail memiliki teori-teori sensasional sekitar system jagat raya dan dasar-dasar perputarannya.

Namun bukan semua itu yang menjadikan nama Ibnu Tufail dikenang dalam sejarah Islam bahkan sejarah dunia. Sebuah master-piece Ibn Tofail berjudul "حي بن يقظان" (Hayy bin Yaqzhan, di Barat dikenal sebagai: Philosophus Autodidactus) telah menorehkan tinta emas di atas lembaran sejarah sebagai salah satu karya paling berharga yang pernah ada di bidang filsafat.

Dalam mengarang buku ini Ibnu Tufail banyak terpengaruh filsafat Plato. Pemikiran-pemikiran filosofis Ibn Tofail ketika menulis buku ini telah mencapai taraf yang paling matang. Ditulisnya pemikiran-pemikirannya dalam bentuk novel alegori sembari menawarkan sebuah korelasi filsafat antara akal dan agama dalam pencarian kebenaran hakiki. Hayy, nama aktor utama novel ini adalah simbol dari akal manusia. Bin atau ibn dalam bahasa Arab berarti anak. Sementara Yaqzhan oleh Ibnu Tufail dijadikan sebagai simbol atas Allah, Tuhan YME.

Hay bin Yaqzhan aka Philosophus Autodidatus dalam bahasa aslinya (bahasa Arab):

Hay bin Yaqzhan - Arabic Version

Buku ini menggunakan aktor utama seorang bayi buangan yang terdampar di padang pasir sebuah pulau tanpa seorangpun manusia. Sang bayi lalu ditemukan oleh seekor rusa betina yang baru ditinggal mati anaknya, yang kemudian mengasuh Hayy sebagai anaknya. Terciptalah hubungan anak-ibu antara sang bayi dan sang rusa. Di sinalah awal petualangan pencarian hakikat Hayy. Persentuhan antara teologi Islam yang dimiliki Ibnu Tufail dengan filsafat Eropa telah menjadikan Hayy yang terlahir secara fitrah dapat meniru tingkah laku sang ibu dan binatang-binatang lainnya. Dan Hayy bertahan hidup hanya berandalkan insting yang dimilikinya.

Seiring umur Hayy yang bertambah, akalnya berkembang. Melalui perbandingan tingkah laku, ia mulai menyadari perbedaan antara dirinya dan binatang-binatang sahabatnya, bahkan perbedaan dengan ibunya sendiri. Lalu melalui pengamatan, berfikir dan kontemplasi, Hayy perlahan menemukan insting kemanusiaannya. Ini semua membuka matanya dalam mengenali hakikat semesta. Kelak di akhir cerita Hayy bertemu juga dengan hakikat utama yang ia cari. Dari pemikiran filsafat yang tertuang dalam buku inilah kemudian Barat menetapkan Ibnu Tufail sebagai pelopor konsep Autodidacticism (pembelajaran mandiri -red) dan konsep Tabula Rasa (fitrah -red).

Buku ini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap literatur Arab dan literatur Eropa, dan telah menjadi salah satu best-seller yang sensasional di belahan barat Eropa sepanjang abad 17 hingga abad 18. Pengaruh kuat dari buku ini juga tampak pada filsafat Islam klasik dan filsafat modern Barat. Buku ini telah menjadi salah satu buku terpenting pencetus lahirnya Revolusi Sains dan Pencerahan Eropa. Filsafat yang tertuang dalam buku ini bisa dijumpai pada karya-karya Thomas Hobbes, John Locke, Isaac Newton dan Imanuel Kant dalam berbagai variasi dan derajat yang berbeda-beda. Buku ini pula yang kelak mengilhami cerita dan kartun Mowgli yang kita kenal saat ini.

Karya Ibnu Tofail ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, di antaranya bahasa Latin, bahasa Inggris, Perancis, Ibrani, bahasa Jerman dan bahasa Belanda. Buku ini muncul dari latar belakang rahasia-rahasia seputar al-hikmah as-syarqiyyah (hikmah timur, istilah dalam bidang Tasawuf -red) yang disebutkan oleh Ibn Sina. Dan hal ini tidak dapat diraih kecuali oleh seseorang yang telah mencapai derajat al-kasyf, di mana segala sesuatu telah ditemukan hakikatnya secara jelas dan gamblang.

Ibnu Tufail menjalani masa akhir hayatnya sebagai salah satu orang terdekat Khalifah dinasti Muwahidin, hingga akhirnya beliau meninggal di kota Marrakech (baca: Marrakesy, kota di kawasan sahara Maroko) pada tahun 581 H/1185 M dengan meninggalkan sebuah karya yang tak terlupakan.

___________

Sumber:

  1. Biografi Ibnu Tufail dalam bukunya "Hay bin Yaqzhan" dalam bahasa Arab.
  2. Wikipedia berbahasa Inggris.
  3. Wikipedia berbahasa Indonesia.
  4. Postingan milik blogger Spanyol, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
  5. Pengantar singkat buku "Hay bin Yaqzhan" pada sebuah forum Arab.
  6. Tulisan lama saya di Multiply.

Lanjut Membaca...

November 3, 2008

Dapat Penghargaan

Translate to English

Bismillah. Awalnya sedang iseng mencek blog reactions milik Islamic Oase di Technorati. Niat semula hanya ingin memberi reaksi balik sebagai tanda terima kasih terhadap blog-blog yang sudah melink kesini. Ternyata secara tak sengaja mata saya tertuju ke pranala ini: http://belajarmengajar.blogspot.com/2008/10/blog-award.html.

Kalau dilihat tanggalnya, postingan ini dibuat sebulan yang lalu. Yah, saya terlambat menyadari ini. Bagaimanapun, saya berterima kasih kepada ibu guru Emilia yang telah sudi memberi nominasi penghargaan ini kepada saya. Saya juga mau minta maaf kepada beliau atas keterlambatan merespon penghargaan ini. Harap maklum ya bu, sebulan terakhir saya agak disibukkan dengan proses pendaftaran studi saya.

Sebagai tindak lanjut, saya berkewajiban memasang gambar Award ini di blog ini. Tambahan lain, saya harus memilih 7 nominasi penerima Award ini, sekaligus menyebarkan pesan penghargaan ini kepada blogger yang terpilih nantinya:

Semangat Ngeblog dan Terus Berkarya

Untuk jelasnya, akan saya tuliskan kewajiban-kewajiban yang diberikan oleh sponsor Award ini yang harus dilakukan oleh para nominator nantinya:

  1. Put the logo on your blog.
  2. Add a link to the person who awarded you.
  3. Nominate at least 7 other blogs.
  4. Add links to those blogs on yours.
  5. Leave a message for your nominees on their blog.
Baiklah, setelah semuanya jelas, sekarang waktunya saya menentukan penerima penghargaan ini. Award ini jatuh kepada ...
  1. Mas Rozy, Bengkel IT Samarinda,
  2. Mas Irma (Irwan Maing), >> The Path to Succesful Life,
  3. Dzikrotul Izzah, Creative Bee,
  4. Febriyanti Farida, Diary sii Eby,
  5. Mas Mugni, MalikMughni,
  6. Psigoblog, Psikologi Indonesia Goes Blogging, dan
  7. Ulhy, The Woman is Spirit.
Kepada yang terpilih, saya ucapkan: "Semangat Ngeblog & Terus Berkarya" :)
____________
NB:
Kepada yang terpilih: untuk pranala logo Awardnya, kalian bisa menggunakan link ini:

http://1.bp.blogspot.com/_ybaJ2qs4gYc/SQ8Hs5CkJWI/AAAAAAAAAD8/jVKdbQOBTEA/s1600-h/award-1.png

Lanjut Membaca...

Merefleksi Kembali Silaturahmi

Translate to English


[Tulisan ini pindahan dari Multiply. Sementara menunggu munculnya postingan lain tidak ada salahnya saya migrasikan beberapa tulisan di sana yang mewakili karakter konten Islamic Oase]


"Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka". (QS Muhammad: 22-23)

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sufyan, Heraklius pernah bertanya kepadanya – kala itu Abu Sufyan masih Kafir: 'Apa yang diperintahkan oleh Muhammad?' Abu Sufyan menjawab: 'Dia memerintahkan kami untuk mendirikan shalat, bersedekah, menjaga kehormatan diri (al-'iffah) dan menyambung tali silaturahmi'. (HR Bukhari)

Setiap muslim di dunia ini patut bersyukur bahwa di dalam syari'at Islam terkandung nilai dan norma-norma yang sangat tinggi nilainya. Dan jika seluruh nilai dan norma yang merupakan way of life tersebut dijalankan secara menyeluruh, niscaya baik disadari walaupun tidak hal tersebut akan mendatangkan kemaslahatan baginya. Baik itu di dunia kita sekarang ini maupun di kehidupan yang mendatang.


Salah satu dari tuntunan hidup Islam tersebut adalah silaturahmi. Bahkan lebih dari itu, silaturahmi merupakan salah satu ajaran akhlaq yang paling asasi di dalam Islam. Dalam konteks keseharian kita masyarakat Indonesia yang sebagian besar penduduknya memeluk agama Islam, pelaksanaan praktek silaturahmi dapat dengan mudah kita jumpai. Lihat saja budaya orang-orang Indonesia setiap kali lebaran 'Idul Fitri dan hari raya 'Idul Adha menjelang.
Lepas dari bubar melaksanakan sholat sunnah 'Ied, berbondong-bondong mereka saling berpeluk-salaman, saling kunjung mengunjungi antar rumah. Mulai dari rumah-rumah tetangga yang dapat ditempuh hanya dengan mengandalkan kaki, hingga rumah-rumah handai tolan nun jauh di belahan bumi lainnya yang hanya dapat dijangkau dengan pesawat terbang. Di luar dua moment besar Islam ini, pesona silaturahmi masih dapat dengan kental kita rasakan pada kehidupan keseharian masyarakat pelosok dan pedalaman desa.

Hal yang sangat kita sayangkan, bentuk interaksi yang sangat mulia ini lambat laun dari hari ke hari makin sulit dijumpai. Padahal, silaturahmi bukan hanya sekedar bermuatan tali persaudaraan. Jauh melewati hal tersebut, silaturahmi pada hakikatnya adalah cara pandang dan sikap hidup seorang muslim yang menjadikannya sebuah pelita yang selalu menyinari keadaan di sekelilingnya. Silaturahmi bernilai universal.

Banyak sekali dari kita yang secara fisik memang mempraktekkan silaturahmi, yaitu silaturahmi -dalam arti harfiyah yang selama ini kita fahami- yang bertujuan untuk mempererat ukhuwah yang telah terbina antar sesama kita. Namun tidak jarang manakala kita sedang mengunjungi salah seorang kerabat, hati ini masih tetap menyimpan kebencian dan dendam terhadapnya. Apalah artinya jika kita bersilaturahmi secara fisik saja, sementara kalbu kita bertolak belakang dengannya.

Bersilaturahmi hendaknya dilaksanakan dan dijalankan secara menyeluruh, luar dan dalam, secara lahiriyah dan batiniyah. Nuansa persaudaraan ini haruslah terjalin dari hati ke hati, hal itu berarti bahwa ibadah yang hukumnya wajib ini harus disertai rasa tulus dan ikhlas. Layaknya ibadah wajib lainnya dalam syari'at Islam, silaturahmi bisa membawa implikasi langsung dan tak langsung terhadap jalannya roda kehidupan seorang muslim. Hal ini juga membawa dampak sebab-akibat, baik ketika silaturahmi itu sedang kita jalani maupun setelah berakhirnya.

Suatu ketika Rasulullah pernah bersabda: "Barangsiapa yang ingin banyak rezeki dan panjang usia, sambungkanlah tali silaturahmi" (HR Bukhari)
Hadits di atas hanya merupakan salah satu contoh dari sekian banyak keutamaan silaturahmi. Dengan silaturahmi kita akan mendapat limpahan cinta kasih dari orang-orang terdekat kita, sebagaimana Allah akan lebih menyayangi kita. Lebih dari itu, silaturahmi dapat membawa kita menuju pintu syurga kelak di akhirat nanti, insya Allah.

Sebaliknya manakala kita meninggalkan silaturahmi, kita akan mendapatkan imbalan yang telah dijanjikan Allah dalam firman-Nya: "Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka" (QS Muhammad : 22-23)

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh 'Abdullah bin Abu Awfa, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda yang artinya: "Rahmat (Allah) tidak akan turun kepada suatu kaum/ummat yang di dalamnya terdapat orang yang memutus tali silaturahmi" (HR Bukhari dan Baihaqi)
Pada hakikatnya bentuk pengejewantahan dari silaturahmi tidaklah hanya sebatas aksi saling mengunjungi antar sesama. Banyak hal yang bisa kita laksanakan masuk dalam kategori pelaksanaan silaturahmi.
Ibnu 'Abidin al-Hanafy berkata : "Silaturahmi itu wajib hukumnya walaupun hanya dengan mengucapkan salam, memberi selamat, dengan memberi hadiah, dengan menolong sesama, atau dengan mujalasah, bersikap lembut, berbuat ihsan …"

Untuk ringkasnya, ada beberapa perbuatan yang termasuk dalam batas minimal dari silaturahmi seperti mengucapkan salam, senyum dan tidak menyakiti orang lain. Sementara itu, beberapa perbuatan yang bisa dikategorikan ke dalam batas maksimal silaturahmi adalah ziyarah mengunjungi kerabat, menjenguk yang sakit, memberikan hadiah, berinfaq kepada orang yang kesulitan, memberi selamat pada tiap moment hari raya, dan beberapa perbuatan lainnya.

Nah, sekarang setelah kita mengetahui segala hal mendasar tentang hakikat silaturahmi, dapatkah kita merealisasikannya dalam kehidupan keseharian kita. Kapankah kiranya silaturahmi antar umat islam umumnya bisa menjelma menjadi sebuah payung besar yang menaungi dan memeluk kaum muslimin seluruhnya, hingga tidak lagi kita lihat seseorang berjalan beriringan dalam dendam, atau sampai kita tidak lagi menemukan sebuah negara Islam yang acuh terhadap nasib Negara tetangganya ??
Semua pertanyaan itu hanyalah kita yang bisa menjawabnya, dan jawaban tersebut akan menjadi lebih jelas manakala kita memulainya. Wallahu a'lam bis-shawab.

Lanjut Membaca...

blogger templates | Make Money Online